Dengan apa kita kan bayar sejarah
Apa dengan kesal dan marah?
Detik menjahit kisah jadi lembaran
Hari dan bulan, tahun menahun
Sejarah berputar dalam kurun
Ia membekas kuat mengakar hingga
Hal baru terasa tabu untuk dijamah
Bahkan yang tanpa dasar pun kadang
Direpetisi jadi legenda tanpa dalang
Sudah kepalang
Kakek menabur angin dan cucu meliterasikan badai
Didengar ramai kisah negeri permai
Kejujuran terbelenggu, fikir dirantai
Biarkan imaji beterbangan dibawa angin pantai
Sampai bila kau lupa pulang
Sampai pahlawan menangi pertempuran
Sampai persepsi diri menang atas aturan
Sampai negara dipimpin satu perempuan
Sampai lagu cuma tersisa ketukan
Sampai sejarah tentang kita dibukukan.
surabaya 21 januari 2019
Blank Words (BeWe)
Blog Ini Berisi Kumpulan Sajak Dan Pusi Saya Serta Buah Pikiran Saya Tentang Sekeliling Saya @baswoda_rapper_songwriter.
Rabu, 03 April 2019
PANAS
Mengejutkan.....
kau bertaruh pada kemarahan
masa depan tak seperti cuaca, diramalkan
sedikit upah berbanding keringat tumpah
tak perlu bersumpah, cuma sedikit berubah
atau kau lontar karena hati gentar
kau bersedih lalu suaramu bergetar
tanggung jawab itu hal besar
ia dipikul, bukan digendong bersandar
ia berjalan, bukan diam dan teriak
ia memandu, bicara lewat tindak
ia merasa bidak berkostum menteri
ia tetap bijak meski berlimpah materi
karena ikhlas datangkan berkah bukan rejeki
karena totalitas kan jadi ilmu bukan materi
karena mata tak akan puas sampai mati
karena harta takkan dibawa kedalam peti
kau cuma lelah berkali, dan dipermainkan
lalu kenapa tak pura -pura mati agar diperhatikan
kau malu, kau pendendam, kau pilih diam
mengherankan....
kau bahkan lupa caranya tertawa
terlalu dalam kau hanyut terbawa.
kau bertaruh pada kemarahan
masa depan tak seperti cuaca, diramalkan
sedikit upah berbanding keringat tumpah
tak perlu bersumpah, cuma sedikit berubah
atau kau lontar karena hati gentar
kau bersedih lalu suaramu bergetar
tanggung jawab itu hal besar
ia dipikul, bukan digendong bersandar
ia berjalan, bukan diam dan teriak
ia memandu, bicara lewat tindak
ia merasa bidak berkostum menteri
ia tetap bijak meski berlimpah materi
karena ikhlas datangkan berkah bukan rejeki
karena totalitas kan jadi ilmu bukan materi
karena mata tak akan puas sampai mati
karena harta takkan dibawa kedalam peti
kau cuma lelah berkali, dan dipermainkan
lalu kenapa tak pura -pura mati agar diperhatikan
kau malu, kau pendendam, kau pilih diam
mengherankan....
kau bahkan lupa caranya tertawa
terlalu dalam kau hanyut terbawa.
Thumbler
Kenapa kau merasa kecil
kenapa mengalah berarti bergerak ke pinggir
tidak semuanya mesti diteriaki
tidak semua bermaksud memaki
kau memandang tertindas
dari matamu bulan terlalu panas
padahal banyak yang menari
ditemani cahaya matahari
yang berjalan ke kiri, kau pikir salah
lalu untuk apa arah?
ada benar karena salah berkorban
tak marah dikambing hitamkan
kenapa kau tetap membenci
padahal tidak ada yang menghakimi
kau ketakutan pada cermin
kau khawatir kepada suara hati
kau diperangi dirimu sendiri
kau dimangsa kecemasan, ketakutan
kau cuma dikoreksi, bukan dikhianati
kau cuma di ingatkan, bukan diperingatkan.
kenapa mengalah berarti bergerak ke pinggir
tidak semuanya mesti diteriaki
tidak semua bermaksud memaki
kau memandang tertindas
dari matamu bulan terlalu panas
padahal banyak yang menari
ditemani cahaya matahari
yang berjalan ke kiri, kau pikir salah
lalu untuk apa arah?
ada benar karena salah berkorban
tak marah dikambing hitamkan
kenapa kau tetap membenci
padahal tidak ada yang menghakimi
kau ketakutan pada cermin
kau khawatir kepada suara hati
kau diperangi dirimu sendiri
kau dimangsa kecemasan, ketakutan
kau cuma dikoreksi, bukan dikhianati
kau cuma di ingatkan, bukan diperingatkan.
T A M A K
Apa yang kan buatmu puas?
kau menuntut sesuatu yang tak kupunya
kau bilang itu jawab.
sudah kulakukan, penuh tanggung, kujawab
kau minta matahari pada dian
dalam pikiranmu sendiri bermain, kemudian
kau tak akan jadi puas
sampai kau meledak
jadi kepingan
jadi, untuk apa kujawab.
kau menuntut sesuatu yang tak kupunya
kau bilang itu jawab.
sudah kulakukan, penuh tanggung, kujawab
kau minta matahari pada dian
dalam pikiranmu sendiri bermain, kemudian
kau tak akan jadi puas
sampai kau meledak
jadi kepingan
jadi, untuk apa kujawab.
Senin, 01 April 2019
Putusan
keputusan untuk pergi atau tinggal
sudah kau sangkal, perjanjian tak bertanggal
ku ambil langkah tapi bukan tuk berlalu
aku rasa malu, tengok kembali pada masa lalu
sakit memperkuat, semua yang kita buat
serasa hanya sekelebat, tersisa hujat
kini bagai terpisah oleh lautan
sakitku dicekam rasa ketakutan.
Surabaya, 1 April 2019
Surabaya, 1 April 2019
Sabtu, 02 Maret 2019
NOL KM
Kita akan belajar tentang menerima
Menyerah tanpa syarat kepada problema
Kita berjuang, katanya hingga penghujung titik
Nyatanya kita kalah cerdik
Lalu keinginan menguap
Seperti embun jam setengah tujuh pagi
Kita biarkan rasa, berpikir siklus selalu berulang
Titik lompat yang terlewat nanti di depan dapat
Kau tau? bunga yang sama tak mekar dua kali
Tiap lekuk adalah kisah
Tiap kelopak miliki ciri warna dan aroma
Tak harus sama mewangi
Karena tatapan tak perduli tak akan pernah memahami
Cuma kepada yang mau tundukkan dahi dan mencium
Sang mawar kan beri semerbak
Dan bahagia yang tak terlalu mahal.
Surabaya 13/2/19
TENTANG KAMU
Kamu masih saja menjengkelkan
Tak bergeming, kukuh seperti semula
Aku tau, seandainya cuma ada kita
Maka tak perlu aku berkamuflase
Mengapa kau tak beranjak?
Mengapa kau benarkan rasa bertindak.
Kau tau?, aku tak cukup cerdas
Sulit kubedakan mana batu mana kertas
Karena rasa bermain sangat halus
Kau akan terluka dengan jatuh yang tak harus
Kadang kau beri kesempatan ku
Untuk hanyut terbawa arus
Padahal kita tak bermuara
Padahal imaji tentangku berbentuk gelombang suara
Kamu makhluk aneh,
Kau berikan ruang untuk sakit yang bahkan begitu mudah kau yakini
Alih - alih patung yang kau tempuhi adalah panjang narasi.
Surabaya 24/02/19
Langganan:
Komentar (Atom)
Hi Story
Dengan apa kita kan bayar sejarah Apa dengan kesal dan marah? Detik menjahit kisah jadi lembaran Hari dan bulan, tahun menahun Sejarah b...